Uang Perusahaan Digunakan untuk Judi Online

Bahkan seorang sales perusahaan distributor bahan bangunan di Kota Semarang harus merasakan dinginnya sel tahanan Mapolsek Pedurungan karena kecanduan perjudian poker terpercaya.

Rhesa Erastus Hudoyo (32) warga Tawangsari, Puri Anjosmoro, Kota Semarang itu menggelapkan uang perusahaan senilai Rp 230 juta.

Uang hasil penjualan yang harusnya disetorkan ke perusahaan itu malah digunakan oleh Rhesa berfoya foya dan bermain judi online.

Sehari hari, Rhesa bertugas menawarkan orderan kepada beberapa toko bangunan sekaligus menagih lalu disetorkan ke perusahaan.

“Pakai foya foya sama judi online,” kata Rhesa, Rabu (31/8/2016).

Perusahaan pun akhirnya melaporkan ulah Rhesa ke polisi. Tak butuh waktu lama, Rhesa ditangkap dan harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.

Kapolsek Pedurungan, Kompol Sugiyatmo, mengatakan, Rhesa sempat menghilang dan tidak masuk kantor selama dua minggu hingga akhirnya ditangkap.

Dia ditangkap di rumahnya tanpa perlawanan.

Saat rumahnya digeledah, polisi menemukan barang bukti berupa bukti tanda terima pembayaran barang dari berbagai toko yang harusnya disetorkan Rhesa ke perusahaannya.

“Kami tangkap di Puri Anjosmoro. Dia menggelapkan uang perusahaan tempatnya bekerja untuk foya foya dan main judi online,” kata Sugiyatmo.

7 Bocah Kena Razia Sedang Buka Situs Porno dan Main Judi Online

Satuan Reserse Kriminal Polres Asahan melakukan razia warung internet (warnet) di Kota Kisaran. Dalam razia kali ini, petugas mengamankan tujuh orang bocah yang tengah asyik menonton situs porno dan bermain judi pokerrepublik online.

Adapun ke tujuh bocah itu masing-masing E, K, RS, P, H, Y dan TK. Ke tujuh bocah itu diamankan dari dua warnet yang berada di Jl Rivai, Kota Kisaran.

“Dua warnet yang kami razia masing-masing Plus Net dan X Net. Dari kedua warnet ini, kami temukan sejumlah bocah yang membuka tayangan porno dan bermain judi online berupa permainan Poker,” kata Kasat Reskrim Polres Asahan, AKP Bayu Samara, Senin (5/12/2016).

Ia mengatakan, razia kali ini untuk mengantisipasi tindak kekerasan seksual bagi anak di bawah umur. Selama ini, banyak kasus pelecehan yang korban dan pelakunya adalah bocah.

“Kami juga melakukan razia kepada sejumlah warnet yang melanggar jam tayang. Razia kali ini, masih dalam tahap sosialisasi,” ungkap Bayu.

Berdasarkan data di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Asahan, pada tahun 2015 saja, kasus pelecehan terhadap bocah perempuan berjumlah 104.

Sementara di tahun 2016, jumlahnya meningkat menjadi 185 kasus.

“Hal-hal seperti ini tentu menjadi kekhawatiran kita semua. Kebanyakan kasus pelecehan, memang berawal dari tayangan porno di situs-situs internet,” ungkap mantan Kanit Pidum Polrestabes Medan ini.(ray/tribun-medan.com)

Sebanyak tujuh bocah kedapatan membuka situs porno dan bermain judi online, Senin (5/12/2016) .