Judi “Online” Cepat Meluas

Judi online mudah dan cepat meluas apabila pemerintah lemah menyiapkan perangkat sumber daya manusia, teknologi, dan perangkat hukum yang mampu menangkalnya.

Demikian pendapat pakar hukum media siber dari Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, Dr Danrivanto Budhijanto, Dirjen Aplikasi Informasi Kementerian Komunikasi dan Informatika Ashwin Sasongko, serta Dirjen Perlindungan dan Keamanan Sosial Kementerian Sosial Andiza D, Selasa (10/7).

Rivanto berpendapat, saat ini masih belum jelas definisi judi online. ”Belum ada kejelasan dan kesamaan pengertian atau konvergensi antara KUH Pidana atau Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dengan Undang-Undang (UU) Teknologi Informasi yang ada (maksudnya UU No 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektonik),” ucapnya.

Pengelola perjudian poker terpercaya dengan pandai menyamarkan kegiatan judi dengan kegiatan permainan seperti ketangkasan dan hiburan. Di sisi lain, KUH Pidana dan UU Teknologi Informasi tidak menyebutkan apa itu tindakan judi.

Kedua, UU hanya menyebutkan tentang muatan judi. Dengan kata lain, hanya menyebutkan kata ”perjudian” tanpa menjelaskan, definisi judi. ”Padahal jenis judi terus berkembang dan makin menyerupai permainan biasa,” ucap Danrivanto.

Blokir dulu

Meski demikian, lanjutnya, pemerintah harus berani membasmi judi online. ”Blokir dulu saja situs yang diduga melakukan kegiatan judi dan perintahkan pengelola datang ke instansi terkait untuk memberi penjelasan kegiatannya,” tutur Danrivanto.

Ashwin mengakui, pihaknya tidak mampu mengawasi dunia maya yang bermuatan judi di Indonesia. Pasalnya, sebagian besar di antaranya dikendalikan dari luar negeri. Ada banyak situs di internet, dan satu situs bisa terdiri dari jutaan uniform resource locator (URL) atau alamat situs internet.

Ashwin mengatakan, jajarannya pernah kalangkabut menghadapi tulisan di internet yang melecehkan nabi. Reaksinya keras. Oleh karena itu perlu langkah cepat memblokir. ”Ternyata yang diblokir bukan hanya URL-nya, tetapi juga situsnya. Padahal situs tersebut berisi URL-URL lain yang sifatnya positif. Akibatnya, kami mendapat protes,” ujarnya. (WIN)

Game Zynga Dianggap Judi, Pemilik Warnet Diburu Polisi

Hingga hari ini, petugas kepolisian masih memburu pemilik warung internet (warnet) Supernet, The Jong alias Tony, yang disangka memfasilitasi perjudian pokerrepublik online via Facebook. Dia dinyatakan masuk daftar pencarian orang (DPO) alias buron.

“Sampai saat ini pemilik warnet tidak ada di rumahnya, boleh dicek. Kalau ada pasti sikat,” kata Kasubdit III Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Sumut Ajun Komisaris Besar Andry Setiawan, Kamis (26/7/2012).

Kata Andry, masuknya Tony dalam DPO sebenarnya juga sesuai dalam dakwaan jaksa. “Saya bicara tidak mungkin tanpa bukti, sudah ada di berkas itu,” paparnya.

Seperti diketahui, delapan pemain Zynga Poker dan tiga operator warnet Supernet di Jalan Asia Mega Mas, Medan, diadili di Pengadilan Negeri (PN) Medan pada Rabu (25/7/2012).

Mereka didakwa melakukan perjudian karena mempertaruhkan chip dalam permainan pada jejaring sosial Facebook itu. Dalam kasus ini pengusaha warnet tidak turut didakwa. Padahal, dalam dakwaan disebutkan, pemilik dan penyedia peralatan yang digunakan untuk aktivitas perjudian tersebut bernama The Tjong alias Tony, tetapi ternyata dia belum ditangkap.

Dalam persidangan kemarin, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Sani Sianturi dan Juliana Tarihoran dalam dakwaannya menyatakan bahwa ke-11 terdakwa ditangkap petugas Kepolisian Daerah Sumatera Utara saat bermain poker online di warnet Supernet milik The Tjong pada 9 April 2012.

Aktivitas perjudian itu dikelola tiga operator warnet, yaitu Bun Seng alias A Seng (37), Herwin alias A Cong (23), dan Deni Anggriawan (22). Kasusnya dalam satu berkas. Sementara delapan pemain Zynga Poker yang diadili dalam berkas terpisah, masing-masing Edi alias A Wi, M Nasir alias Aldo, Eman alias Liang Sun, Hendry alias A Hen, Haris Pratama Putra, Kesuma Wijaya, A Seng alias A Sen alias M Ikhsan, dan M Zulfikar.

Para terdakwa dijerat Pasal 303 ayat (1) ke-1 KUH Pidana tentang Perjudian. Dari dakwaan diketahui bahwa taruhan dalam permainan kartu itu berupa chip. Tiga terdakwa Bunsen, A Cong, dan Deni bertugas mentransfer chip ke akun milik pemain dengan harga Rp 2.000 untuk chip 1 juta atau 1 miliar. Setelah memilliki chip, pemain bisa bermain poker online di dunia maya.

Jika memenangkan chip, pemain dapat menjualnya ke operator seharga Rp 1.700 per 1 miliar. Jika kalah dan kehabisan chip, mereka bisa membeli kembali kepada operator.

Dua saksi polisi menyatakan, penangkapan dilakukan setelah adanya laporan dari masyarakat. Mereka menyelidiki informasi itu dengan cara turut membeli chip untuk mengetahui sistem transaksi perjudian itu. “Dari informasi tersebut diketahui keuntungan Supernet sebesar Rp 10 juta sampai Rp 30 juta per hari,” kata saksi di hadapan majelis hakim yang diketuai Rumintang.

Saat penangkapan, polisi menyita uang tunai Rp 7 juta, berikut 33 unit komputer, 10 buku dan pulpen, serta 80 kartu perdana seluler.

Mendengarkan keterangan saksi, sorang terdakwa membantah kalau permainan Zynga Poker merupakan judi. “Tidak benar, kami tidak ada membeli chip. Itu hanya permainan game di Facebook,” kata terdakwa Wijaya.

Perkara ini tak berbeda dengan kasus judi online lain yang pernah disidangkan di Pengadilan Negeri Medan. Pengusaha warnet tidak turut didakwa. Padahal, dalam dakwaan disebutkan bahwa pemilik dan penyedia peralatan yang digunakan untuk aktivitas perjudian turut melanggar.

Satu Rekening Judi Online Bisa Tampung Rp 500 Juta dalam Sehari

Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dirtipideksus) Bareskrim Polri, Brigjen Pol Victor E Simanjuntak mengatakan, lalu lintas uang yang berlangsung dalam perjudian poker terpercaya cukup fantastis. Victor menyebut dalam sehari satu buah rekening penampung hasil judi online mencapai ratusan juta.

“Uang yang menjadi taruhan cukup besar. Satu rekening taruhannya dari pemain dari Rp 500 ribu sampai Rp 500 juta,” kata Victor di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (22/5/2015).

Victor menuturkan, pihaknya sudah berhasil menemukan 460 rekening yang menjadi penampung uang para penjudi. Menurut dia, pihaknya yang telah melakukan cyber patrol telah berhasil mendapatkan 360 judi online yang beredar di Indonesia.

“Kita sudah koordinasikan ke PPATK untuk melakukan penundaan transaksi 460 rekening tersebut,” tuturnya.

Masih kata Victor, pemblokiran rekening tersebut sudah efektif pada Senin (18/5/2015) lalu. Pihaknya pun belum mendapatkan keluhan dari pemilik rekening penampung uang hasil judi online tersebut.

Pemerintah Bantah Keluarkan Dana untuk Bebaskan 10 WNI di Kamboja

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri membantah mengeluarkan sejumlah uang untuk membebaskan 13 warga negara Indonesia (WNI) di Kamboja.

“Berita itu sama sekali tak benar dan pabrikasi. Mereka 100 persen bebas murni tanpa syarat. Bahkan KBRI mengeluarkan surat untuk ke-3 WNI tersebut bahwa mereka bebas, tak ada masalah hukum,” ujar Duta Besar Indonesia untuk Kamboja, Pitono Purnomo, saat dikonfirmasi di Jakarta, Jumat (29/5/2015).

Sebanyak 13 WNI yang ditahan di Kamboja bagian dari 23 WNI yang bekerja sebagai karyawan di perusahaan judi pokerrepublik online di Kamboja. Mereka ditangkap atas tuduhan penggelapan sejumlah uang perusahaan.

Menurut Pitono, mereka yang sudah dibebaskan terbukti tidak memiliki sangkut paut dengan penggelapan itu. Karena pelaku penggelapan yang tidak lain teman mereka, Jeffry Sun.

Saat ini tersisa 10 WNI ditambah tersangka Jeffry yang sedang menjalani proses hukum di Kamboja. Mereka diperiksa karena terlibat dengan Jeffry atas tuduhan penggelapan uang Rp 2 miliar lebih milik perusahaan.

KBRI di Kamboja tengah memediasi kasus yang menyeret Jeffry. Pemerintah Indonesia sudah meminta sisa 10 WNI tersisa dilepas secara tanpa dikenai beban apa pun. Pemerintah juga sudah menyiapkan bantuan hukum untuk Jeffry.

Dua penjudi Poker Online Ditangkap

Unit Reskrim Polsekta Banjarmasin Tengah menangkap dua pemuda yang kedapatan melakukan judi poker online, bahkan salah satunya menjadi pembandar.

Kapolsekta Banjarmasin Tengah Kompol Didik Subiayakto melalui Kanit
reskrimnya Ipda Budi Guna Putra mengungkapkan, penangkapan dua pelaku
ini dilakukan pada Sabtu malam lalu, dan diamankan juga sebagai alat
bukti uang dua juta rupiah lebih yang diduga modal judi pokerrepublik online.

“Juga kita sita satu unit laptop dan lembaran kertas rumus poker,”
ujarnya, Rabu (24/9).

Dua tersangka yang ditangkap bernama Noor Pahmi (34) warga Jalan Teluk
Dalam Banjarmasin Tengah dan Junaidi (26) warga Rawa sari Banjarmasin
Tengah.

“Keduanya ditangkap ditempat berbeda, Junaidi ditangkap di pangkalan
ojek Rawa Sari, sedangkan Noor Pahmi ditangkap di rumahnya,” ungkap Budi.

Penangkapan mereka berdua ini, kata Budi, merupakan hasil lidik unitnya
yang mencurigai keduanya ini berperan besar maraknya judi poker online
di wilayah Banjarmasin Tengah.

Awal ditangkap adalah si Junaidi, terang Budi, dengan barang bunti uang
Rp 81 ribu di tangannya, dia mengaku akan menyetorkan uang itu untuk
judi poker online melalui Noor Pahmi. “Jadi si Noor Pahmi bisa
dikatakan pembandarnya, dia yang mengunggah situs judi poker online

melalui laptop miliknya, dan saat ditangkap dia lagi memegang uang Rp
1,95 juta, diduga uang itu kumpulan uang banyak orang yang bermain poker lewat dia,” papar Budi.

Noor Pahmi mengaku dengan penyidik, kata Budi, bermain judi togel
online disitus LOTUS.Com, dengan bandarnya dari Singapura dan Hongkong.
‘Mereka berdua ini terancam pasal 303 KUHP yang ancamannya hukumnnya
palinglama empat tahun penjara,” tegasnya.

Saat dengan wartawan, Junaidi dan Noor Pahmi mengakui mereka pemain
judi poker online. Menurut Noor Pahmi, dia sudah menekuni main judi
online di internet ini sekitar satu bulan lamanya. “Kadang kita pasang
sampai Rp 150 ribu, pernah berhasil dapat Rp 700 ribu,” ucapnya.

Dia mengaku awalnya hanya iseng main judi online, tapi lama-lama
menjadi ketagihan ingin main terus karena memberikan harapan untung
banyak, dan sejumlah orang ikut masang lewat situsnya.

“Kalau sudah begini (masuk penjara), saya tobat sudah main judi lagi,”
aku Noor Pahmi.

Polisi Tangkap Pelaku Judi “online”

Unit Reserse Kriminal Polsekta Banjarmasin Barat menangkap seorang pria yang diketahui melakukan permainan judi pokerrepublik dalam jaringan “online” di wilayah kota tersebut.

“Pelaku ini mengadakan judi online kepada pelanggannya dan atas informasi, kami berhasil menangkapnya dan menyita barang bukti kejahatannya,” ucap Kapolsekta Banjarmasin Barat Kompol Wendi Otneil Simanjuntak SIk melalui Kanit Reskim AKP A Rizky di Banjarmasin, Selasa.

Ia mengatakan, pelaku judi online yang ditangkap itu diketahui WY alias Yudi (34) warga Jalan Cendrawasih gang Rumah Banjar Kecamatan Banjarmasin Barat.

Untuk penangkapan terhadap WY dilakukan pada Senin (30/3) siang sekitar pukul 14.00 Wita setelah polisi menerima informasi serta langsung ditindak lanjuti dan akhirnya pelaku tertangkap.

“Saat kami melakukan penangkapan terhadap pelaku, terlihat pelaku hanya bisa pasrah dan sekalipun tidak melakukan perlawanan atau mencoba untuk melarikan diri,” tutur pria berperawakan atletis itu.

Terus dikatakannya, dari penangkapan itu polisi berhasil melakukan penyitaan barang bukti di antaranya satu unit Hp Nokia E 63, empat lembar kertas grafik, dua lembar kertas yang ada angka tebakan, dua buah pulpen, satu buah kartu ATM BCA dan uang tunai Rp20 ribu.

“Karena kami telah menemukan bukti dari tindak pidana yang dilakukan WY maka ia pun kami tahan dan dilakukan proses hukum,” tutur pria lulusan Akpol angkatan 2010 itu.

Hasil penyidikan sementara WY telah ditetapkan sebagai tersangka dan atas perbuatannya dijerat dengan pasal 303 KUHP dengan ancaman hukuman di atas lima tahun.

“Kami mengimbau kepada warga agar jangan pernah melakukan tindak pidana perjudian karena apabila kami dapati dan ditemukan barang bukti maka akan kami tindka tegas sesuai aturan hukum,” tegas pria yang akrab dengan awak media itu. ***2*** Budi Suyanto

Kasus Judi Online di Kalideres Bernilai Rp 50 Juta/Hari Terungkap

Kasus perjudian poker terpercaya di 2 lokasi berbeda di kawasan Kalideres, Jakarta Barat, terbongkar. Petugas Subdit Resmob Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya kemudian menangkap dua tersangka berinisial JK dan SK atau Hans.

Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Metro Jaya Kombes Krishna Murti menjelaskan, kasus tersebut diungkap Unit IV Resmob yang dipimpin Kompol Teuku Arsya Khadafi. Mereka membongkar perjudian jenis togel atau toto gelap melalui medium internet di Taman Semanan Indah, Kalideres, Jakarta Barat pada Kamis 6 Agustus lalu.

“Dari tersangka JK, polisi menyita barang bukti berupa 1 unit handphone E63 dengan sim card Indosat, 1 unit kalkulator, 1 buah buku rekening dengan atas nama JK dan 1 buah kartu ATM BCA. Dengan omzet perjudiannya mencapai Rp 50 juta per hari,” ucap Komisaris Polisi (Kompol) Arsya di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Minggu (9/8/2015).

Pada hari yang sama, Tim Opsnal Unit V Resmob Polda Metro Jaya yang dipimpin langsung oleh Kompol Handik mengungkap perjudian online di Perum Taman Permata Palm, Kalideres, Jakarta Barat. Dari pengungkapan tersebut, polisi menangkap seorang tersangka SK atau Hans.

Handik mengatakan, modus yang dilakukan tersangka yaitu dengan menerima taruhan judi togel dan judi bola dari para pemain dengan cara memanfaatkan fasilitas pesan singkat atau SMS, telepon, serta user dari perusahaan judi Sbobet (www.sbobet.com) dan IBC (www.ibcbet.com). Adapun berdasarkan penelusuran Liputan6.com, kedua situs tersebut kini tidak bisa diakses lagi.

“Selanjutnya tersangka mengirimkan atau mempertaruhkan hasil judi togel dan judi bola dari para pemain kepada bandar judi dan penghitungan kalah atau menang penyelenggaraan judi tersebut dihitung secara langsung antara pemain dengan tersangka SK,” terang Kompol Handik.

Dari tangan tersangka, polisi menyita 1 satu unit token key BCA, 1 buku tabungan BCA, 1 kartu ATM BCA, 1 unit kalkulator, 1 unit handphone dan 1 unit komputer Apple Macintosh. (Ans/Mut)

Polri Membidik ‘Penyuap’ Perwira Polda Jabar, Tentang Kasus Judi Online

Kasus suap judi pkrrepublik online yang menyeret dua perwira Polda Jabar, ‪AKBP MB dan AKP DS sebagai tersangka, terus ditelusuri. Kini Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri membidik 3 tersangka baru.

“Tersangka lain sudah jelas dari pemeriksaan saksi-saksi. Tersangka terlibat dari awal dua. Baru identifikasi tiga orang, tidak bisa sampaikan. Tiga orang tersangka baru lagi,” kata Kasubdit IV Direktorat Tindak Pidana Korupsi Bareskrim, Kombes Yudhiawan, di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (4/9/2014)

Dia mengungkapkan ada seseorang berinisial T yang diduga merupakan kunci dari kasus ini. T juga diduga merupakan bagian dari pemberi suap kepada dua perwira Ditreskrimum Polda Jabar itu.

“Akan kita dalami lebih lanjut sampai sejauh mana keterlibatannya. Identitas sudah diketahui, kunci dalam kasus ini. T, termasuk pemberi (suap),” ujar dia.

Meski identitas T sudah diketahui, namun pihaknya belum berhasil menangkap T yang kini masih buron. “kita koordinasikan ke imigrasi untuk mencari T,” papar dia.

Dalam kasus ini, AKBP MB dan AKP DS diduga menerima suap sebesar Rp 6,5 miliar dari orang berinisial AI, DT, dan T, bandar judi online. Kedua perwira ini, mendapat uang karena membantu membuka 18 nomor rekening ketiganya yang telah diblokir Direskrimum Polda Jabar pada 2013 lalu. ‬

Kini AKBP MB sudah dijebloskan kepenjara Bareskrim Polri sejak 12 Agustus 2014. Sementara AKP DS masih bebas menghirup udara segar sebab penyidik masih menunggu kelengkapan alat bukti.

Keduanya ditetapkan sebagai tersangka karena telah melanggaran UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Tindak Pidana korupsi, dengan ancaman hukuman 20 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar.‬